HUJAN RINTIK, STERIL DAN KUMAN
HUJAN RINTIK, STERIL DAN KUMAN
Sebagai satu bangsa di dalam negara yang berada di geografi khatulistiwa, masyarakat Indonesia tentu tak lepas dari pergantian iklim dalam dua musim. Penghujan dan kemarau. Dua musim itu, secara kalender silih berganti setiap enam bulan.
Pada setiap pergantian musim atau pancaroba, sering selalu ditandai keadaan terkait keberadaan manusia. Dalam banyak aspek kehidupan. Salah satunya termasuk hal tanda-tanda di masalah kesehatan. Baik kesehatan lingkungan, masyarakat maupun individu.
Dalam perbedaan musim itu, secara ilmu kesehatan, pengalaman dan pendidikan dari para pelaku tenaga kesehatan, ada hal yang bisa ditularkan menjadi pengetahuan masyarakat. Terutama terkait musim penghujan.
Tanda-tanda yang paling mudah dikenali adalah ketika sudah masuk musim hujan. Menurunnya kesehatan individu atau masyarakat acapkali bersamaan dengan masuknya musim ini.
Hal ini dikarenakan saat penyebaran kuman penyakit yang terjadi bersamaan dengan musim hujan. Seolah-olah menumpang jatuhnya air hujan. Kuman-kuman, apakah virus, bakteri, jamur dan lain sebagainya adalah "penumpang gratis" di awal jatuhnya hujan.
Menurut dr. Soeharjanto, Sp.PK. (Spesialis Patologi Klinik) pengajar senior di FK/FKG UGM, "Hindarilah awal jatuhnya air hujan saat rintik-rintik pada sekitar lima menit pertama. Periode awal itu sangatlah kotor."
Sebab pada masa awal hujan itulah kuman-kuman yang semula beterbangan di udara akan terbawa jatuh ke bumi "menumpang" rintik air hujan. Saat itulah kuman menyebar, lalu menginvasi dan menginfeksi tubuh manusia yang sedang lemah.
"Setelah sekitar lima menit, ketika mulai lebat, air hujan sudah menjadi steril," tambah dr. Soeharjanto. Bahkan air yang ditampung ketika hujan sudah deras, kualitasnya sudah setara steril.
Dicontohkannya, karena air hujan pada periode lebat itu sudah berkualitas steril, maka bisa digunakan untuk spoeling. Membersihkan alat suntik.
Dikatakannya bahwa, pengetahuan inipun pernah menjadi bahan ajar yang diterimanya pada masa kuliah di UGM tahun 1957-an. Oleh karenanya masih layak untuk dilanjutkan menjadi pengetahuan praktis bagi masyarakat.
Terutamanya dalam situasi dan keadaan dengan keterbatasan lingkungan. Baik sarana maupun prasarana.
Hal ini bisa menjadi pengetahuan praktis masyarakat atas keperluan air steril di daerah kering, misalnya di Gunungkidul dan Indonesia Timur.
Caranya sederhana saja. Cukup menampungkan di wadah apapun, setelah melewati hujan rintik pada lima menit pertama. Tentu wadah yang dipilih setelah dibersihkan secara manual pula.
Pengetahuan ini sangat sederhana, namun secara patologis dapat dijadikan pilihan untuk bahan sterilisasi. Semoga bermanfaat. ***
Komentar
Posting Komentar