SENDANGADI

SENDANG DI DUSUN SENDANGADI YANG TAK PERNAH KERING 

       Kata "sendang" adalah bahasa Jawa, yang dalam bahasa Indonesia berarti "sumber air". Sendang ini berada di dusun Jongké Lor, Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

       Keberadaannya sudah berpuluh tahun, dari yang semula dikelola swadaya oleh masyarakat setempat. Kini, sendang air itu di bawah pengawasan Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral, Kabupaten Sleman. Sedangkan hariannya oleh Organisasi Pengelola Mata Air "Sendangsari", di bawah Kepala Dukuh setempat. 

       Pemanfaatannya, tetap untuk kegiatan dan keperluan masyarakat secara langsung. Mandi, cuci pakaian, bermain anak dan pengairan kolam ikan air mengalir. Semula, sebelum dalam pengawasan, warga masih memandikan sapi dan hewan ternak lainnya di situ. Kini tidak lagi. 

       Bahkan dengan satu kemampuan swadaya desa, pada lokasi sisi selatan telah dibangun kolam renang sederhana. Di situ, anak-anak warga bermain dan berenang. Mereka bermain air. Namun saat suasana pandemi virus corona ini, kolam itu dibuka secara berkala dan terbatas. Sepi... Hanya kaum perempuan yang tetap mencuci pakaian setiap harinya. 

       Sumber mata air itu, secara geologis, terlihat berada di daerah cekungan "lembah kecil". Sehingga secara logika ilmu fisika, sangat masuk akal, aliran air akan bermuara ke daerah lembah yang rendah. Walaupun hulu sumbernya tidak diketahui dari mana. 

       Jalan dusun di sampingnya pun membelah "lembah" itu. Turun terjal dari timur dan menanjak ke barat. Menuju jalan kelas kabupaten yang beraspal halus. Kemiringan jalan terjal itu bisa sekitar tiga puluh derajat. Terlihat perbedaan tinggi daerah lembah terhadap dataran normal pada elevasi rerata plus-minus 10 m. 

       Secara fungsional dan etika, warga menyekat sendang itu dengan tembok dalam dua bagian. Perempuan tersendiri untuk mandi dan cuci. Sedangkan yang lain untuk umum laki-laki maupun anak-anak. Jadi mereka mandi dan mencuci tidak saling membaur.

       Pembangunan fisik penataan lingkungannya terlihat di prasasti yang tertanggal 10 Mei 1980. Sudah empat puluh tahun lebih.
Hal itu adalah wujud kepedulian lingkungan atas manfaatnya. 

       Telah sekian lama keberadaan sendang itu juga telah membangkitkan rasa kesadaran pendidikan bagi masyarakat. Antara lain, dengan menjaga kelestariannya, warga setempat membuat kesepakatan. 

       Bahwa warga pendatang dilarang membangun sumur air pompa sedot elektrik. Nantinya, jika semakin banyak orang yang membuat sumur, dikhawatirkan akan mengganggu deposit mata air. Jadi diperlukan suatu kearifan lokal. 

       Tetapi, seiring perjalanan waktu, warga sekitar lokasi, kiranya semakin bersyukur. Sendang itu merupakan bukti berkah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk masyarakat. 

        Berkah kualitas, air sumber itu tak kalah dengan air olahan teknik penyehatan lingkungan. Sehingga pengaruh terhadap air sumur timba di lingkungan rumah penduduk pun, berkualitas sangat layak. 

       Air sumur timba di rumahan adalah sumber air baku keperluan rumah tangga untuk konsumsi. Warga pernah memeriksakan kualitas air secara fisik, kimia dan mikrobiologi ke laboratorium Dinas Kesehatan. Hasilnya dinyatakan baik semua. Sehat. 

       Tetapi apapun kualitasnya, tanggung jawab kesehatan diri tetap harus dikedepankan. Sehingga air baku sendang itu wajib dimasak dulu sebelum dikonsumsi. 

       Hikmah yang disyukuri warga adalah, lingkungan setempat tidak pernah mengalami masa kering air tanah atau sumber. Baik musim penghujan atau kemarau, dusun Jongké Lor ini tidak pernah kekeringan. Praktis duabelas bulan, air lancar. 

       Lokasi sendang ini, kian hari makin tertata. Persis di seberang utara sendang, kini terbangun pendopo sebagai balai warga pada 2017. Bangunan itu diberi nama Joglo Sendangadi.

       Menurut pengurus Dukuh setempat, bangunan itu berasal dari anggaran desa Pemerintah Kabupaten Sleman. Berbagai dan banyak kegiatan telah dilakukan di situ. 

       Dari mulai rapat warga, pertemuan dan rapat dengan Kepala Desa, Camat hingga Bupati pun telah memanfaatkan pendopo itu. Bahkan untuk lokasi TPS selama kegiatan Pemilu nasional maupun kepala daerah. Warga juga sudah beberapa kali menghelat acara resepsi pengantin.

       Dalam interaksi dan pemanfaatan fasilitas dan sarana lingkungan, keberadaan sendang itu, kini seolah menjadi ikon lokasi. Telah jadi imej lokasi yang "mengangkat" nama Dusun setempat. Apalagi titik koordinat sendang itu, bila dilihat dari citra angkasa, berada hanya sekitar 200 meter dari jalan negara Yogyakarta - Magelang.

       Demikianlah, perjalanan waktu yang panjang telah membuktikan, keberadaan alam yang terpelihara dengan baik, pastilah akan selalu memberi manfaat bagi masyarakat. Baik secara lingkungan itu sendiri, sosial, kultural maupun pada saatnya, ekonomi juga. (***) 

Komentar